Pada suatu ketika dizaman teknologi dan informasi berkembang pesat memasuki era digitial dan internet, seorang bernama Cak Lumen kepikiran untuk belajar menulis dan telah merasakan banyaknya dorongan untuk mengekspresikan pikirannya yang membludak untuk dituliskan.
Cak Lumen sengaja menunda-nunda hasratnya menulis karena, malu, takut dan bingung, harus mulai dari mana, dan sengaja pula mencari-cari alasan untuk tidak menuliskan pikiran-pikirannya. Cak Lumen berfikir untuk menunggu momen ketika pikiran dan segala ide yang bersliweran di kepalanya pada akhirnya akan overload dan tumpah dengan sendirinya. Hal ini ia lakukan dengan alasan untuk ‘mengkondisikan’ hasrat menulis tadi menjadi alamiah.
Cak Lumen hidup di sebuah kota besar yang penuh dengan kesibukan. Namun baginya kesibukan kota besar tidak mempengaruhi dirinya yang penuh ’kesunyian’.
Postur badannya tinggi nggak pendek juga nggak, rambutnya ikal-ikal, hidung pesek dan jalannya agak bungkuk, dahinya lebar dan alisnya seperti semut beriring jarang. Boleh dibilang, wajahnya cukup tampan lah di kalangan pria di zamannya.
Cak Lumen seorang yang suka bergaul dengan teman-temannya saat siang, sekaligus suka menyendiri di kala malam hari. Dia suka merefleksikan segala hal di dalam perenungannya. Kadang-kadang bila ada masalah Cak Lumen suka lupa diri juga tapi kemudian sadar dengan cepat dan berusaha mengendapkan masalah-masalah tadi sehingga tidak menjajah pikirannya dan ketenangan hatinya, seperti Belanda menjajah Indonesia.
Berbekal ilmu yang sedikit tentang internetan dan blogging Cak Lumen akhirnya menumpahkan tulisannya di blog ini. Cak Lumen mendata ulang serta menginventarisir ide-ide yang diingatnya pernah terlintas, terus berusaha ditulisnya dengan mencari sumber-sumber tulisan yang mungkin dapat menambah wujud kembang ide tersebut menjadi lebih ilmiah atau lebih akurat.
Semoga cerita-cerita Cak Lumen di Blog ini banyak bermanfaat bagi para pengunjung yang lagi bersliweran entah nyari apa, gitu lho.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar